Tersenyumlah Jika Sakit, Allah Akan Memberikan Kebahagiaan

By Administrator 20 Des 2022, 13:57:58 WIB Opini
Tersenyumlah Jika Sakit, Allah Akan Memberikan Kebahagiaan

PALEMBANG, INFO REPUBLIK -- Hidup itu berwarna. Ada siang dan ada malam, ada sakit dan ada sehat, ada senyum dan ada tangis, ada suka dan ada pula duka bahkan hidup dan juga mati. Itlah keniscayaan.

Firman Allah ;“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya: 35).

 

Baca Lainnya :

Didalam pemikiran Islam, kebahagiaan yang nyata dan menyenangkan itu hanyalah akan dialami dalam surga. Firman Allah:’ Artinya: Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (QS. Ar – Rad: 29).

 

Dengan pengertian bahwa, ‘Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya, dan mengerjakan amal-amal shalih, bagi mereka kebahagiaan, pandangan sejuk dan keadaan yang baik, serta tempat kembali yang baik menuju surga dan keridoan Allah.( Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia)

 

Makanya tak perlu kaget dengan segala bentuk kesusahan dalam kehidupan sehari-hari di dunia ini. Allah memberikan ungkapan dalam firman-Nya: ’’Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti? (QS Al-An’am: 32).

 

Adalah Allah yang mengatur kehidupan kita. Allah lah yang menentukan warna kehidupan ini. Makanya perlu ada keyakinan bila mengalami sakit bukanlah karena Allah tidak suka dengan kita,  sakit yang Allah berikan atas dasar kasih dan sayang Allah.

Andaikan setiap penyakit disebabkan dosa, maka hanya orang berdosalah yang mengalami sakit. Coba lihat Nabi Ayyub As, yang merupakan Nabi Allah dan sangat dekat dengan Allah dan terjaga dari dosa, namun bertahun – tahun mengalami sakit.

Bahkan sakitnya lebih berat.

 

Bahkan sakitnya lebih berat.Inilah Takdir Allah SWT dan tidak ada takdir yang tidak mengandung hikmah besar. Dalam Al Quran, Nabi Ayub dikisahkan sebagai orang yang sabar. “  Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan (QS.  Sad: 41).

Pakar tafsir Alquran yang juga pengasuh Pondok Pesantren Bayt Alquran-Pusat Studi Alquran, KH. Syahrullah Iskandar mengatakan dalam ayat tersebut nabi Ayyub mengadu kepada Allah SWT tentang sakit yang dideritanya.

Pada ayat itu Nabi Ayyub mengatakan bahwa ia mengalami sakit sebab godaan atau gangguan setan. Menurut Kiai Syahrullah terdapat pelajaran bahwa nabi Ayyub tidak menyalahkan Allah SWT dalam apa yang menimpanya.

“Terdapat pelajaran disini bahwa Nabi Ayyub di sini tidak menyalahkan Allah dalam hal buruk yang diterimanya,” kata kiai Syahrullah dalam kajian kitab Min Wahyil Quran karya Syekh Yasin Muhammad Yahya di Masjid Bayt Alquran-Pusat Studi Alquran, Republika.co.id.

 

Tidak ada sekalipun  manusia didunia ini termasuk para nabi yang tidak hidup tanpa ujian dari Allah.  Allah SWT ingin mengetahui apakah dengan penyakit ini kita semakin dekat kepada-Nya ataukah kita murung dan berburuk sangka kepadaNya.

Sakit sebagai penghapus dosa sebagaimana sabda  Rasulullah SAW “Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah kepayahan,kesusahan, kesedihan, penyakit dan gangguan, bahkan hanya duri yang menusuknya,melainkan Allah akan menghapus dosa – dosa sebagaimana gugurnya daun – daun pepohonan” ( HR. Bukhari dan Muslim ).

 

Sakit juga sebagai sarana penigkatan keimanan.Firman Allah; “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuro : 30).

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Sebesar apapun musibah yang menimpa, sejatinya hal tersebut merupakan balasan dari perbuatan dosa yang telah dilakukan sebelumnya. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan-kesalahan sehingga Dia tidak memberikan hukuman atasnya.” (https://hamalatulquran.com/hikmah-dibalik-rasa-sakit).

 

Allah sedang membuat tangga untuk mendaki ke panggung kemuliaan, mendakilah sekarang dengan catatan harus sabar dan ridho serta ikhlas atas apa yang sedang menimpa kita. Sakit merupakan sarana instropeksi diri, saatnya kita berinstropeksi diri terhadap sesuatu yang kita lakukan.

Allah berfirman;” Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.(QS. Al Baqarah: 214). Penulis Bangun Lubis

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook